Kania Laksita Raras
Rocker Juga Manusia

Siang yang hampir selalu diguyur hujan di Bandung. Awalnya hanya akibat hujan pancingan, sekarang menjadi siklus harian, which is not predictable to pour. Saya menghabiskan waktu dalam ruangan hotel yang sebenarnya bukan hak inap saya. Ditemani batang-batang Dunhill Lights Menthol yang membuat ruangan ini agak sesak dan pikiran yang berkecamuk.
Terlalu banyak meminta untuk dicurahkan dan tidak kuat menunggu sampai nanti, saya pun beranjak menjarah laptop, yang lagi-lagi, bukan hak milik saya (title for today : modal diri doang.red). Setelah melalui beberapa minggu, nyaris sebulan, yang menekan dari berbagai aspek, saya rasa sekarang adalah saat dimana masa recovery itu berjalan. Bisa dibilang, saya mulai beranjak pada satu fase lebih nyata dari sekedar pemulihan.
Diputus pacar, hal ini tampak sebagai sebuah fenomena biasa yang langsung menimbulkan beberapa deskripsi mutlak bagi sebagian (atau kebanyakan) orang : sakit hati, menangis, menderita. Entah berapa adjektif lain yang masih dapat muncul. Untuk alasan baik, untuk melangkah menuju yang lebih dari sebelumnya, atau justru mendapatkan diri kita terpuruk ke bagian yang tidak pernah kita sangka. Dalam kasus pribadi ini, saya menemukan sebuah kondisi baru, yaitu ketidaklogisan dan LELUCON!
Manusia dianugerahi daya berpikir berdasarkan logika oleh Tuhan dan untungnya, saya merasa memiliki daya pikir yang agak sedikit lebih dari sekedar berpikir. Saya merinci dan mengingat, lalu merangkai kesemuanya menjadi semacam sebuah kronologis atau reka ulang. Di situlah, saya menemukan kejanggalan yang benar-benar ekstrim, bahkan cenderung absurd. Saya sering banget melontarkan kata “GILAAAAAA….” Setiap memikirkan hal ini, karena memang tidak ada penggambaran lebih gamblang dan tepat untuk kasus yang saya alami. Saya yakin, di antara kamu semua pasti ada yang pernah mengalami kejadian serupa.
Alasan awal, kami berdua beda agama. Beberapa hari sebelum itu, pihak lain yang lebih baik saya sebut Mr.X ini mengutarakan beberapa kekurangan saya yang membuatnya tidak nyaman. Mungkin pada waktu itu (sekali lagi, mungkin…) ia mengharapkan saya menemui turning point dimana saya bisa merasa tidak nyaman dan ini adalah the dead end. Sayang beribu sayang, peristiwa malam itu justru menguatkan niat saya untuk membuktikan bahwa saya tidak sepenuhnya seperti apa yang ia utarakan. Dan keputusan itu dibuat, “Kita lanjut dengan perubahan. I’ll show you that I can change,”. Walaupun makna change di sini lebih tepat dijelaskan sebagai pembuktian bahwa “Gue gak gitu kaleee…”
Pada malam penuh kelelahan fisik karena berada dalam tiga kota sekaligus dalam satu hari itu, Mr.X sempat mengatakan bahwa dia tidak mau memutuskan hubungan ini, tapi dari penuturannya yang panjang lebar memojokkan saya itu sangat tergambar bahwa tidak ada niat untuk melanjutkan hubungan ini lagi. Usailah sudah malam agak laknat itu…
Beberapa hari kemudian, ini adalah malam laknat sesungguhnya. Di saat saya sedang tidur dengan lelap karena kecapaian mencari bahan tugas dan berencana bangun lewat tengah malam untuk mengerjakan tugas, telepon CDMA saya berbunyi. Weits, sebuah nama yang sudah berminggu-minggu tidak tampil dalam layar hp itu, si Mr.X. Nyawa yang baru terkumpul 20% langsung dibuka oleh omongan dia kalau hubungan saya dan dia cukup sampai di situ. Pukul 02.00, 25 Oktober 2007. Apakah itu waktu yang tepat untuk melakukan tindakan tersebut? Entahlah…
Dan blaaaarrrr….kepenatan karena tugas kuliah menggila, kondisi badan yang tidak bisa menerima asupan apapun selama beberapa hari, ditambah roh saya yang belum sepenuhnya masuk ke dalam raga ini, mendukung terjadinya degradasi pikiran dan emosi yang benar-benar kelewat batas. I was totally blanked out that dawn…never been in my mind that it would be the day of my weakest and he was capable to do that…
Kondisi rinci saya setelah itu sudah tidak bisa dideskripsikan melalui kata-kata yang terbatas visualisasi dan pemahaman ini. Tapi yang jelas, saya merasa bahwa saat itu adalah hari yang mengerikan, cukup.
Berganti hari, berganti hari, berganti hari…sejalan dengan batin saya yang berkecamuk dan terus bertanya apa faktor utama penyebab semua itu, saya meraih apa yang selama ini tidak pernah terlintas dalam pikiran saya. Jawaban yang, entah mengagetkan, entah tidak begitu surprising lagi. He already got someone else, someone that had been with him just couple days after he broke up with me. I don’t know the details, then…
Wow, pikiran dan memori mengenai segala perkataan dan apa yang telah kami lalui langsung menari-nari dalam pikiran saya. Ditambah pendapat sejumlah teman yang sempat mereka lontarkan beberapa hari sebelum itu mulai merangkai sebuah kesimpulan di otak saya. Orang yang notabene mantan kekasih saya itu mengalami sesuatu, entah apa, dan itulah yang menyebabkan dia memutuskan tidak bisa mengusahakan apapun lagi untuk hubungan kami berdua.
Konsistensi diri yang selama ini saya tangkap dari perilaku dan perkataannya pun menjadi pudar. Dia bukan orang yang dulu pernah saya kenal. Itu yang pasti. Terjadi perubahan luar biasa dalam rentang waktu singkat, terlalu singkat hingga bisa mengubah kepribadian orang hingga 180 derajat seperti ini. Entah itu karena si another sweetheart, atau karena kondisi pribadi dia yang menyebabkan rangkaian lelucon ini melengkapi pikiran saya. Dan lucunya, orang baru dalam hidupnya itu benar-benar orang baru dari lingkungannya. Hahaha, saya hanya kembali pada pola pemikiran saya lagi bahwa ada kemungkinan dia sudah dekat dengan si another sweetheart sewaktu dia masih menjabat status in a relationship with Kania. Funny, or ironic? Well, you tell me. Frankly, it’s both for me.
Di sini saya mengamati bahwa sangat sulit bagi seorang manusia untuk menemukan konsistensi dirinya. Manusia cenderung mengutarakan pikirannya melalui perkataan, karena itu adalah media komunikasi paling mendasar dalam kehidupan kita. Tapi, terkadang manusia terlalu terbawa suasana dan kondisi yang menurutnya merupakan sebuah pengabsahan akan tindakan baru walaupun itu tidak sesuai dengan konsistensi diri yang ia pernah utarakan. Memang benar ada pernyataan, we’ll never know till we try. Everything has a start and an end, and when people decide to start something, they usually know the risk that it takes. While, in other circumstances, people just give up with what they come into when they find something is not as they want to be. Dalam keadaan wajar, manusia akan mencoba mengatasi kendala dan hambatan itu, tapi dalam kasus ini, Mr.X menyerah. Saya sempat berpikir jika ini mengenai menang dan kalah, saya ada dalam posisi kalah. Gagal. Loser. Worthless.
Ups…sayangnya, sekarang setelah saya mengerti betul kenyataan apa yang ada di depan mata, situasi berbalik. Ya, saya bukanlah si kalah, tanpa menyebutkan dengan mutlak bahwa saya menang, tapi saya tahu persis situasi seperti apa yang sekarang terjadi. Terlepas dari perasaan di dalam Mr.X yang tidak mungkin saya tahu seratus persen, but regret will never be mine like I thought it would be. Melepaskan sesuatu untuk yang lebih baik adalah pernyataan yang sempat membuat saya merasa serendah dulu, tapi begitu saya melihat sesuatu, saya kini yakin bahwa pernyataan ini ditujukan untuk diri saya sendiri. I don’t tell that I’ve been playing an angel, but I just tried to play right and logically. Pain was mine, suffering was all I got, depression was always haunted me every morning I woke up, but now I wake and see things with laugh because for me, it’s all just a JOKE! It’s ridiculous. No offense, but he’s been blinded by some silly games.
Entah apa yang akan ia rasakan, karena saya tahu betul apa yang menjadi prioritas hidupnya selama saya mengenal Mr.X (dengan catatan bahwa dia masih Mr.X yang saya kenal dulu). Saya juga tidak begitu peduli dengan apa yang akan ia hadapi di depan. Bisa jadi menyesal, bisa jadi menjalani hidupnya yang baru ini dengan perasaan riang. Tapi satu hal yang saya mengerti dan tahu pasti, I’m much worthier than what I’ve got.
Seperti yang saya muat dalam profile Friendster, dewi fortuna selalu berpihak pada saya belakangan ini. Dan memang, no pain no gain. Ternyata, saya mendapatkan kesempatan baru untuk menunjukkan pada diri saya sendiri bahwa apa yang telah menjadi persepsi dia selama ini hanya sebagian kecil dari saya. Ada bagian-bagian lain yang tidak sempat, atau memang, tidak pernah dia lihat dan sadari.
Satu kesimpulan saya pada siang yang semakin hujan ini, bermainlah pada posisi yang benar, no lies then no regrets. Not knowing so just don’t conclude. And mean what you say, mean what you think, do as yours because we are the controller of all alter-ego,ego, and emotion. These things don’t have right to control us.